Malang Autism Center

Sensory Overload vs Sensory Seeking pada Autisme

Setiap individu mengalami dunia dengan cara yang berbeda, termasuk mereka yang berada dalam spektrum autisme. Salah satu perbedaan utama yang sering terjadi pada individu autis adalah cara mereka memproses informasi sensorik. Beberapa anak autis mungkin merasa senang dengan rangsangan tertentu ( sensory overflow ), sementara yang lain justru mencari lebih banyak rangsangan sensorik (sensory searching ). Memahami Sensory Overload dan Sensory Seeking ini sangat penting agar orang tua dan lingkungan sekitar dapat memberikan dukungan yang tepat.

Sensory Overload (Ketika Rangsangan Terlalu Berlebihan)

Sensory overflow terjadi ketika otak menerima terlalu banyak rangsangan sensorik dalam satu waktu sehingga sulit untuk diproses dengan baik. Ini bisa menyebabkan perasaan cemas, penasaran, atau bahkan ketakutan. Anak dengan sensory overflow bisa terganggu oleh suara keras, cahaya terang, atau bahkan tekstur tertentu pada makanan atau pakaian.

Tanda-tanda kelebihan sensorik pada anak autis:

  • Menutup telinga karena merasa terganggu oleh suara yang bagi orang lain terdengar biasa.
  • Menangis, berteriak, atau bahkan melarikan diri dari situasi yang terlalu ramai.
  • Menghindari sentuhan atau merasa tidak nyaman dengan tekstur pakaian tertentu.
  • Menjadi sangat sensitif terhadap bau atau rasa tertentu dalam makanan.

Jika anak mengalami kelebihan sensorik, penting untuk segera memberikan ruang yang lebih tenang dan nyaman. Orang tua bisa membantu dengan mengurangi gangguan, memberikan waktu istirahat, atau menggunakan alat bantu seperti headphone peredam suara untuk mengurangi kenyamanan.

Pencarian Sensorik (Mencari Lebih Banyak Rangsangan)

Sebaliknya, beberapa anak autis justru memiliki kebutuhan tinggi terhadap rangsangan sensorik, yang dikenal sebagai sensory searching . Mereka mencari pengalaman sensorik tambahan untuk merasa nyaman atau mendapatkan stimulasi yang cukup bagi otak mereka.

Tanda-tanda pencarian sensorik pada anak autis:

  • Sering menyentuh atau memegang benda dengan berbagai tekstur.
  • Suka melompat, melompat, atau memutar tubuh mereka.
  • Menyyukai suara keras atau musik dengan volume tinggi.
  • Mengendus atau mencium benda secara berulang.

Pencarian sensorik bukan sekadar perilaku yang aneh atau tidak wajar. Ini adalah cara alami anak dalam memenuhi kebutuhan sensorik mereka. Oleh karena itu, penting untuk memberikan mereka kesempatan untuk menyalurkan kebutuhan tersebut dengan cara yang aman, seperti bermain di ayunan, berenang, atau menggunakan alat bantu seperti fidget toy.

Bagaimana Cara Membantu Anak dengan Tantangan Sensorik?

  1. Mengenali Pola Sensori Anak
    Setiap anak autis memiliki sensitivitas sensorik yang berbeda-beda. Memahami apakah anak lebih cenderung mengalami kelebihan sensorik atau pencarian sensorik dapat membantu orang tua menyesuaikan lingkungan mereka.
  2. Menyediakan Ruang Aman
    Anak dengan kelebihan sensorik membutuhkan tempat yang tenang, sementara anak yang mencari sensasi sensorik mungkin memerlukan aktivitas yang memungkinkan mereka bergerak dan mengeksplorasi dengan aman.
  3. Menggunakan Alat Bantu Sensorik
    Headphone peredam suara, bola terapi, atau tekstur yang disukai anak bisa menjadi cara yang efektif untuk mengelola ketahanan sensorik mereka.
  4. Bersikap Memahami
    Respons anak terhadap lingkungan bukanlah bentuk kenakalan, tetapi cara mereka beradaptasi dengan dunia. Dengan dukungan yang tepat, mereka bisa merasa lebih nyaman dan berkembang dengan optimal.

Setiap anak autis memiliki pengalaman sensorik yang unik. Dengan memahami perbedaan antara Sensory Overload dan Sensory Seeking, kita dapat membantu mereka merasa lebih nyaman dalam menghadapi dunia di sekitar mereka.

Artikel Terkait

Malang Autism Center

Malang Autism Center (MAC) menyediakan layanan ramah anak ASD dengan kegiatan yang berorientasi pada kemandirian anak serta didukung dengan fasilitas yang mendukung.

Insight MAC

Buka WhatsApp
Butuh Bantuan?
Halo! Apa yang bisa saya bantu