
Ketika anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) menunjukkan perilaku tertentu, seperti menangis, tantrum, berteriak, menolak instruksi, atau menarik tangan orang lain, perilaku tersebut sering kali langsung dianggap sebagai sesuatu yang harus dihentikan.
Padahal, perilaku dapat menjadi salah satu cara anak menyampaikan sesuatu. Terutama ketika anak belum mampu menyampaikan kebutuhan, perasaan, atau ketidaknyamanannya melalui komunikasi verbal, perilaku dapat menjadi bentuk komunikasi yang mereka gunakan.
Karena itu, memahami prinsip “Behavior is Communication” dapat membantu orang tua, guru, maupun terapis melihat perilaku anak dengan sudut pandang yang berbeda.
Perilaku Bisa Menyampaikan Sebuah Pesan
Setiap perilaku biasanya muncul karena ada sesuatu yang ingin disampaikan atau dicapai oleh anak. Misalnya, anak menangis ketika diminta melakukan suatu aktivitas. Perilaku tersebut mungkin menunjukkan bahwa aktivitas tersebut terasa terlalu sulit, anak tidak memahami instruksi, atau ingin menghindari situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Contoh lainnya, seorang anak mungkin menarik tangan orang dewasa ketika menginginkan sesuatu. Meskipun belum mengatakan “saya mau itu”, tindakan tersebut dapat menjadi cara anak menunjukkan keinginannya. Dengan melihat perilaku sebagai bentuk komunikasi, kita dapat mulai bertanya: “Apa yang sedang ingin disampaikan anak melalui perilaku ini?”
Pertanyaan tersebut membantu kita untuk tidak hanya berfokus pada perilaku yang terlihat, tetapi juga mencoba memahami kebutuhan di baliknya.
Memahami Sebelum Memberikan Respons
Ketika muncul perilaku yang menantang, respons pertama yang diberikan orang dewasa sangat penting. Daripada langsung memarahi atau menghentikan perilaku, cobalah mengamati apa yang terjadi sebelum dan sesudah perilaku tersebut muncul.
Misalnya, apakah perilaku muncul ketika anak diberikan instruksi? Apakah terjadi ketika lingkungan terlalu ramai? Apakah anak menginginkan sesuatu tetapi kesulitan menyampaikannya?
Pemahaman terhadap situasi tersebut dapat membantu menentukan dukungan yang lebih sesuai bagi anak. Jika anak menggunakan perilaku untuk meminta sesuatu, misalnya, anak dapat diajarkan cara meminta yang lebih tepat sesuai kemampuan komunikasinya.
Mengajarkan Cara Komunikasi yang Lebih Tepat
Memahami bahwa perilaku merupakan komunikasi bukan berarti semua perilaku harus dibiarkan. Tujuannya justru membantu anak menemukan cara yang lebih efektif untuk menyampaikan kebutuhan mereka.
Anak dapat diajarkan berbagai bentuk komunikasi sesuai dengan kemampuan masing-masing, seperti menggunakan kata, gestur, menunjuk, gambar, kartu komunikasi, atau sistem komunikasi lainnya.
Misalnya, daripada menangis ketika membutuhkan bantuan, anak dapat diajarkan untuk mengatakan atau menunjukkan “tolong”. Dengan begitu, anak memiliki cara komunikasi yang lebih jelas untuk menyampaikan kebutuhannya.
Jangan Hanya Melihat Perilakunya
Satu perilaku yang sama juga belum tentu memiliki alasan yang sama pada setiap anak. Anak yang menangis bisa saja sedang meminta sesuatu, merasa tidak nyaman, kesulitan memahami instruksi, atau mengalami situasi yang terlalu berat baginya. Karena itu, penting untuk memahami anak secara individual, bukan hanya melihat perilaku yang muncul.
Pendekatan yang tepat bukan sekadar bertujuan membuat perilaku tertentu berhenti, tetapi juga membantu anak memiliki keterampilan komunikasi yang lebih baik untuk menggantikan perilaku tersebut.
Pada akhirnya, “Behavior is Communication” mengajarkan kita untuk melihat perilaku anak dengan lebih memahami. Ketika anak belum mampu mengatakan apa yang mereka rasakan atau butuhkan, perilaku dapat menjadi salah satu cara mereka menyampaikan pesan.
Dengan mencoba memahami pesan di balik perilaku, orang dewasa dapat memberikan respons yang lebih tepat sekaligus membantu anak belajar cara berkomunikasi yang lebih efektif. Karena terkadang, yang perlu kita ubah bukan hanya perilakunya, tetapi juga cara kita memahami pesan yang sedang disampaikan anak.





