
Dalam kehidupan sehari-hari, transisi dari satu kegiatan ke kegiatan lain merupakan hal yang biasa. Kita dapat menghentikan pekerjaan untuk makan, meninggalkan aktivitas yang sedang dinikmati untuk bersiap tidur, atau mengubah rencana ketika ada kebutuhan mendadak. Namun, bagi sebagian anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), perubahan aktivitas tidak selalu mudah dilakukan.
Misalnya, seorang anak sedang asyik menyusun balok. Ketika orang tua memintanya berhenti untuk mandi, anak mulai menolak, menangis, atau berusaha melanjutkan permainannya. Dalam situasi lain, anak mungkin mengalami kesulitan ketika harus meninggalkan ruang terapi, berganti aktivitas belajar, atau menghadapi perubahan jadwal yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Respons tersebut sering kali dianggap sebagai bentuk ketidakpatuhan. Padahal, ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi kemampuan anak untuk berpindah kegiatan, mulai dari kebutuhan akan prediktabilitas, kesulitan mengalihkan perhatian, hingga ketertarikan yang kuat terhadap aktivitas tertentu.
Dalam pendekatan Applied Behavior Analysis (ABA), proses berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain dapat dipahami sebagai bagian dari keterampilan adaptif yang perlu dipelajari. Dengan dukungan yang sesuai, anak dapat dibantu untuk memahami perubahan, mempersiapkan diri, dan berpartisipasi dalam kegiatan berikutnya dengan lebih nyaman.
Apa Itu Transisi Aktivitas?
Transisi aktivitas adalah proses berpindah dari satu kegiatan, situasi, atau lingkungan ke kegiatan lainnya. Transisi dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti berpindah dari bermain ke belajar, dari ruang terapi ke kendaraan, atau dari aktivitas yang disukai menuju rutinitas perawatan diri.
Bagi orang dewasa, perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana karena kita sudah terbiasa memahami urutan kegiatan dan memperkirakan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, anak mungkin membutuhkan informasi tambahan untuk memahami bahwa suatu kegiatan akan berakhir dan kegiatan lain akan segera dimulai.
Misalnya, ketika terapis mengatakan, “Sekarang waktunya belajar,” anak yang sedang bermain mungkin belum memahami kapan permainan harus dihentikan, apa yang akan dilakukan setelahnya, atau berapa lama kegiatan berikutnya berlangsung.
Karena itu, transisi tidak hanya berkaitan dengan perpindahan tempat. Anak juga perlu menyesuaikan perhatian, memahami instruksi baru, menghentikan respons yang sedang dilakukan, dan memulai aktivitas berikutnya. Kemampuan ini dapat berkembang melalui pengalaman, latihan yang sesuai, dan dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhan individual anak.
Mengapa Transisi Aktivitas Bisa Menjadi Tantangan?
Kesulitan berpindah kegiatan tidak memiliki satu penyebab yang berlaku untuk semua anak dengan autisme. Setiap anak dapat mengalami tantangan yang berbeda, sehingga penting untuk memahami kondisi yang melatarbelakangi responsnya.
1. Anak membutuhkan prediktabilitas
Sebagian anak merasa lebih nyaman ketika kegiatan berlangsung dalam urutan yang dapat diperkirakan. Jadwal yang jelas membantu mereka memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang akan dilakukan berikutnya.
Ketika aktivitas berubah secara tiba-tiba, anak mungkin membutuhkan waktu untuk memahami perubahan tersebut. Misalnya, anak biasanya bermain setelah makan siang, tetapi pada suatu hari harus langsung mengikuti sesi terapi. Perubahan urutan ini dapat menimbulkan kebingungan atau ketidaknyamanan.
Dalam situasi tersebut, informasi mengenai perubahan jadwal dapat membantu anak mempersiapkan diri. Namun, kebutuhan akan rutinitas berbeda pada setiap anak dan tidak berarti semua anak dengan autisme selalu mengalami kesulitan menghadapi perubahan.
2. Menghentikan aktivitas favorit terasa sulit
Ketika anak menikmati suatu kegiatan, ia mungkin ingin terus melakukannya. Menghentikan permainan yang menarik untuk berpindah ke aktivitas lain dapat terasa sulit, terutama jika kegiatan berikutnya kurang menarik atau membutuhkan usaha yang lebih besar.
Sebagai contoh, anak sedang menyelesaikan puzzle dan ingin memasang satu bagian terakhir. Ketika orang dewasa langsung meminta anak meninggalkan meja, anak mungkin menolak karena belum merasa siap mengakhiri aktivitasnya.
Dalam kondisi ini, memberikan informasi sebelum kegiatan berakhir dan menyediakan kesempatan untuk menyelesaikan bagian tertentu dapat membantu, selama tetap sesuai dengan waktu dan kebutuhan situasi.
Penting juga untuk mempertimbangkan apakah aktivitas berikutnya terlalu sulit, kurang dipahami, atau memiliki kondisi yang membuat anak tidak nyaman.
3. Mengalihkan perhatian membutuhkan usaha
Berpindah kegiatan sering kali mengharuskan anak menghentikan satu rangkaian tindakan, mengalihkan perhatian, memahami instruksi baru, dan memulai respons yang berbeda.
Misalnya, ketika anak sedang menyusun balok, ia perlu menghentikan aktivitas tersebut, memahami instruksi untuk merapikan mainan, kemudian beralih ke kegiatan berikutnya. Bagi sebagian anak, rangkaian perubahan ini membutuhkan dukungan tambahan.
Instruksi yang terlalu panjang, diberikan berulang kali, atau disampaikan ketika anak belum siap memperhatikan dapat menambah kesulitan.
Karena itu, instruksi yang singkat, jelas, dan disertai isyarat yang mudah dipahami dapat membantu anak mengenali perubahan aktivitas.
4. Anak belum memahami apa yang akan terjadi berikutnya
Penolakan juga dapat muncul ketika anak tidak memahami kegiatan yang akan dilakukan setelah aktivitas sebelumnya berakhir.
Misalnya, anak diminta meninggalkan ruang bermain tanpa mengetahui bahwa ia akan berpindah ke ruang makan. Ketidakjelasan tersebut dapat membuat perubahan terasa sulit dipahami.
Dalam situasi ini, orang dewasa dapat memberikan informasi yang lebih konkret, seperti menunjukkan gambar kegiatan makan atau mengatakan, “Bermain selesai, sekarang waktunya makan.”
Dengan mengetahui urutan kegiatan, anak memiliki petunjuk yang lebih jelas mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya.
5. Kondisi sensorik atau emosional memengaruhi kesiapan anak
Perpindahan kegiatan terkadang melibatkan perubahan lingkungan, seperti suara yang lebih ramai, pencahayaan berbeda, ruangan baru, atau peningkatan tuntutan aktivitas.
Jika anak sedang lelah, lapar, mengalami ketidaknyamanan sensorik, atau membutuhkan waktu untuk menenangkan diri, transisi dapat menjadi lebih menantang.
Oleh karena itu, respons anak tidak seharusnya langsung dianggap sebagai masalah perilaku. Orang tua dan terapis perlu mempertimbangkan kondisi fisik, emosional, serta lingkungan sebelum menentukan strategi yang akan digunakan.
Bagaimana Transition Cues Membantu Anak?
Transition cues adalah isyarat yang digunakan untuk memberi tahu anak bahwa suatu kegiatan akan berakhir, perubahan akan terjadi, atau aktivitas berikutnya akan segera dimulai.
Isyarat ini membantu membuat perubahan lebih mudah dipahami dan diperkirakan. Bentuknya dapat berupa kata-kata, gambar, suara, benda tertentu, atau penanda waktu yang sesuai dengan kemampuan anak.
Sebagai contoh, sebelum mengakhiri waktu bermain, terapis dapat mengatakan, “Lima menit lagi kita selesai bermain.” Setelah itu, terapis memberikan pengingat kembali ketika waktu hampir habis.
Pada anak yang lebih mudah memahami informasi visual, terapis dapat menunjukkan gambar aktivitas berikutnya atau menggunakan kartu bertuliskan “selesai” dan “berikutnya”.
Contoh transition cues dalam aktivitas sehari-hari
Isyarat verbal
Orang tua memberikan pemberitahuan singkat, seperti, “Sebentar lagi main selesai, lalu kita makan.” Kalimat sebaiknya konkret dan sesuai dengan tingkat pemahaman bahasa anak.
Isyarat visual
Anak diperlihatkan gambar yang menunjukkan urutan kegiatan, misalnya bermain, merapikan mainan, lalu makan. Gambar membantu anak memahami perubahan tanpa harus mengandalkan instruksi verbal saja.
Isyarat waktu
Timer visual atau pengingat waktu dapat digunakan untuk menunjukkan kapan suatu kegiatan akan berakhir. Namun, timer tidak otomatis membuat anak siap berpindah kegiatan. Anak tetap mungkin membutuhkan dukungan tambahan ketika waktu habis.
Isyarat aktivitas berikutnya
Orang tua menunjukkan benda yang berkaitan dengan kegiatan selanjutnya, seperti handuk sebelum mandi atau tas sebelum berangkat. Benda tersebut menjadi petunjuk konkret mengenai perubahan yang akan terjadi.
Pemilihan transition cues perlu disesuaikan dengan respons anak. Isyarat yang efektif bagi seorang anak belum tentu sesuai untuk anak lainnya. Jika suara timer justru mengganggu anak, misalnya, orang tua dapat mencoba isyarat visual atau bentuk pengingat lain yang lebih nyaman.
Strategi ABA untuk Mendukung Transisi Aktivitas
Dalam pendekatan ABA, dukungan terhadap transisi dapat dirancang berdasarkan keterampilan yang ingin dikembangkan, kondisi sebelum perilaku muncul, dan respons anak ketika perubahan dilakukan.
Beberapa strategi berikut dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan individual anak.
1. Memberikan pemberitahuan sebelum aktivitas berakhir
Pemberitahuan membantu anak mempersiapkan diri menghadapi perubahan. Orang tua dapat memberikan pengingat sebelum kegiatan selesai, kemudian mengulangi informasi secara singkat ketika waktu transisi semakin dekat.
Misalnya, ketika anak sedang bermain, orang tua dapat mengatakan, “Dua menit lagi kita merapikan mainan.” Setelah itu, orang tua menunjukkan gambar kegiatan merapikan.
Waktu pemberitahuan perlu disesuaikan dengan respons anak. Tidak semua anak membutuhkan durasi yang sama, dan pengingat yang terlalu sering justru dapat membuat instruksi kehilangan kejelasan.
2. Mengajarkan transisi melalui langkah-langkah kecil
Jika anak mengalami kesulitan berpindah dari aktivitas favorit menuju kegiatan lain, prosesnya dapat dipecah menjadi beberapa langkah.
Misalnya, anak belajar berpindah dari bermain balok ke kegiatan makan. Tahapannya dapat berupa:
- Mendapatkan isyarat bahwa waktu bermain hampir selesai.
- Menyelesaikan bagian permainan yang sedang dikerjakan jika memungkinkan.
- Menaruh balok ke dalam wadah dengan bantuan sesuai kebutuhan.
- Melihat atau mengikuti petunjuk kegiatan berikutnya.
- Berpindah menuju tempat makan.
Setiap langkah dapat diajarkan secara bertahap. Bantuan diberikan ketika diperlukan dan dikurangi ketika anak mulai mampu menjalankan langkah tersebut dengan lebih mandiri.
3. Memberikan pilihan yang realistis
Pilihan dapat membantu anak berpartisipasi dalam transisi tanpa mengubah seluruh tujuan kegiatan.
Sebagai contoh, ketika waktu bermain selesai, orang tua dapat bertanya, “Mau merapikan mobil dulu atau balok dulu?”
Kedua pilihan tetap mengarah pada kegiatan merapikan, tetapi anak memperoleh kesempatan untuk menentukan urutan yang tersedia.
Pilihan sebaiknya benar-benar dapat dilakukan. Jika anak sedang menunjukkan ketidaknyamanan yang berarti, orang tua perlu mengevaluasi kondisinya terlebih dahulu, bukan sekadar menambahkan pilihan agar anak segera mengikuti instruksi.
4. Memperhatikan motivasi dan konsekuensi
Transisi dari aktivitas yang sangat disukai menuju kegiatan yang kurang disukai dapat terasa lebih sulit bagi anak. Karena itu, orang tua dan terapis dapat mempertimbangkan bagaimana membuat kegiatan berikutnya lebih mudah dipahami, dapat diprediksi, dan sesuai dengan kemampuan anak.
Dalam konteks ABA, penguatan dapat digunakan untuk mendukung keterampilan transisi yang sedang dipelajari. Misalnya, ketika anak berhasil mengikuti urutan merapikan mainan dan berpindah ke meja makan, orang tua memberikan pujian yang spesifik atas usaha anak.
Penguatan harus diberikan sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan anak. Fokusnya bukan sekadar membuat anak menuruti instruksi, melainkan membantu membangun keterampilan berpindah kegiatan secara bertahap.
5. Mengamati pola dan mengevaluasi strategi
Jika anak berulang kali mengalami kesulitan pada transisi tertentu, catat situasi yang terjadi sebelum, selama, dan setelah transisi.
Misalnya, apakah kesulitan lebih sering muncul ketika permainan dihentikan secara tiba-tiba? Apakah anak lebih mudah berpindah ketika jadwal visual digunakan? Apakah aktivitas berikutnya terlalu sulit atau berlangsung di lingkungan yang ramai?
Informasi tersebut dapat membantu orang tua dan terapis mengevaluasi strategi yang digunakan. Jika penolakan semakin intens, muncul tanda ketidaknyamanan yang berarti, atau strategi yang diterapkan tidak membantu, pendekatan perlu ditinjau kembali.
Keberhasilan transisi tidak harus selalu diukur dari seberapa cepat anak berpindah kegiatan. Kemampuan memahami perubahan, meminta tambahan waktu, menggunakan komunikasi untuk meminta bantuan, dan menyelesaikan transisi dengan dukungan yang sesuai juga merupakan kemajuan yang penting.
Apa yang Perlu Dilakukan Ketika Anak Menolak Berpindah Kegiatan?
Ketika anak menangis, menjauh, atau menolak saat kegiatan harus berakhir, respons orang dewasa dapat memengaruhi bagaimana situasi tersebut berkembang.
Langkah pertama adalah tetap memperhatikan keselamatan dan kondisi anak. Jika anak menunjukkan tanda kesakitan, kelelahan, atau ketidaknyamanan sensorik, penyebab tersebut perlu dipertimbangkan sebelum melanjutkan tuntutan aktivitas.
Selanjutnya, gunakan komunikasi yang singkat dan jelas. Hindari memberikan banyak instruksi sekaligus ketika anak sedang kesulitan memproses informasi. Tunjukkan isyarat visual atau jelaskan kegiatan berikutnya jika hal tersebut membantu anak memahami situasi.
Jika memungkinkan, berikan pilihan atau kesempatan menyelesaikan bagian tertentu dari aktivitas yang sedang dilakukan. Namun, hindari menjanjikan waktu tambahan apabila memang tidak tersedia, karena konsistensi informasi juga penting bagi anak.
Orang tua juga dapat mengajarkan cara meminta tambahan waktu, meminta bantuan, atau meminta istirahat melalui komunikasi yang dapat digunakan anak. Keterampilan tersebut dapat membantu anak menyampaikan kebutuhannya dengan lebih efektif.
Apabila kesulitan transisi terjadi secara berulang dan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, diskusikan situasinya dengan terapis. Evaluasi bersama dapat membantu mengidentifikasi faktor yang memengaruhi perilaku dan menentukan strategi yang sesuai dengan kebutuhan individual anak.
Kemandirian Berawal dari Transisi yang Dapat Dipahami
Kemampuan berpindah kegiatan bukan sekadar kemampuan menghentikan satu aktivitas dan memulai aktivitas lainnya. Keterampilan ini juga melibatkan pemahaman terhadap urutan kegiatan, kemampuan menyesuaikan perhatian, komunikasi, dan kesiapan menghadapi perubahan.
Bagi anak dengan autisme, dukungan seperti transition cues, jadwal visual, pemberitahuan sebelum perubahan, dan latihan bertahap dapat membantu membuat transisi lebih mudah dipahami.
Namun, tidak ada satu strategi yang cocok untuk semua anak. Pendekatan yang efektif perlu disesuaikan dengan kemampuan komunikasi, kebutuhan sensorik, preferensi, serta respons anak dalam berbagai situasi.
Di Malang Autism Center (MAC), pemahaman terhadap kebutuhan individual anak menjadi bagian penting dalam merancang dukungan pembelajaran. Dengan mengamati pola perilaku dan memberikan bantuan yang sesuai, orang tua dan terapis dapat membantu anak mengembangkan keterampilan transisi yang bermakna bagi kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, tujuan mendukung transisi bukanlah membuat anak selalu berpindah kegiatan secepat mungkin. Tujuannya adalah membantu anak memahami perubahan, memperoleh dukungan ketika diperlukan, dan secara bertahap berpartisipasi dalam berbagai aktivitas dengan lebih mandiri.