Malang Autism Center

Categories
Artikel ASD

Masa Pubertas pada Remaja ASD

Masa pubertas pada remaja ASD sering kali terjadi lebih awal dibandingkan dengan remaja neurotipikal. Hal ini terutama terlihat pada remaja perempuan, yang mengalami percepatan perkembangan dibandingkan dengan rekan-rekan mereka yang tidak memiliki ASD. Masa Pubertas pada Remaja ASD dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk perkembangan fisik, emosional, dan sosial.

Selain itu, beberapa perilaku khas ASD seperti gerakan repetitif dan perilaku stereotipik cenderung menurun selama masa pubertas. Namun, perubahan ini tidak terjadi secara merata, dan ada kemungkinan perilaku tersebut muncul kembali di kemudian hari, terutama pada remaja perempuan.

Tantangan Perilaku Selama Pubertas

Kemampuan Sosial yang Menurun

Banyak remaja penderita ASD mengalami peningkatan kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan sosial selama masa pubertas. Mereka menjadi lebih enggan untuk ikut serta dalam acara keluarga, sulit berkomunikasi, dan cenderung lebih nyaman menonton perpisahan daripada terlibat dalam interaksi langsung.

Perubahan Emosional dan Kemarahan

Masa pubertas juga dikaitkan dengan meningkatnya emosi yang sulit dikendalikan, seperti kemarahan dan kekecewaan. Beberapa remaja penderita ASD menunjukkan perilaku agresif yang meningkat, terutama mereka yang memiliki tingkat ASD sedang hingga berat.

Perilaku Seksual yang Tidak Tepat

Tantangan lain yang ditemukan dalam penelitian ini adalah munculnya perilaku seksual yang tidak sesuai konteks sosial. Beberapa remaja laki-laki penderita ASD mengalami kesulitan dalam mengontrol impuls seksual, seperti masturbasi di tempat umum, perhatian berlebihan terhadap konten seksual, serta kesulitan memahami batasan sosial dalam interaksi dengan orang lain.

Membantu dalam Keterampilan Hidup Sehari-hari

Remaja penderita ASD sering mengalami kesulitan dalam menjaga kebersihan diri, seperti mandi, mengukur, atau menangani mimpi basah. Pada remaja perempuan, menstruasi menjadi tantangan besar karena mereka sering kali kesulitan memahami dan mengelola perubahan yang terjadi pada tubuh mereka.

Masalah Makan dan Pola Makan Selektif

Beberapa remaja penderita ASD memiliki sensitivitas tinggi terhadap tekstur atau bau makanan tertentu, sehingga pola makan mereka sangat terbatas. Selain itu, beberapa individu dengan ASD mengalami masalah berat badan, baik kelebihan maupun kekurangan. Hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan makan yang tidak seimbang dan mengganggu aktivitas fisik.

Masa pubertas bagi remaja penderita ASD membawa berbagai perubahan dan tantangan yang unik. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pendidik untuk memahami serta memberikan dukungan yang tepat guna membantu mereka melewati fase ini dengan lebih baik. Program edukasi dan pelatihan bagi orang tua serta anak-anak penderita ASD sangat diperlukan agar mereka dapat lebih siap menghadapi perubahan yang terjadi selama masa pubertas.

Dengan pendekatan yang tepat, remaja penderita ASD dapat memperoleh keterampilan yang lebih baik dalam mengelola emosi, berinteraksi sosial, serta menjaga kebersihan dan kesehatan pribadi, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih mandiri dan berkualitas.

Referensi

Hamdan, MA (2022). Perubahan dan Tantangan Pubertas pada Remaja dengan Gangguan Spektrum Autisme . Dirasat: Ilmu Pendidikan, 49 (4), 447–458

Categories
Artikel ASD Post Utama

Strategi Self Care Bagi Orang Tua ASD

Mengasuh anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan tantangan yang besar bagi orang tua seringkali juga dapat menimbulkan stres. Banyak orang tua mengalami kesulitan menerapkan strategi perawatan diri (self care), meskipun hal ini penting untuk kesejahteraan mereka. Melakukan perawatan diri bukanlah tindakan egois, melainkan sebuah kebutuhan agar orang tua tetap sehat fisik dan mental dalam merawat anak ASD. Dengan menerapkan strategi Self Care Bagi Orang Tua ASD dapat mengurangi stres serta meningkatkan kesejahteraan mereka. Perawatan diri tidak harus dilakukan secara besar-besaran atau mahal. Yang terpenting adalah menyadari bahwa menjaga diri sendiri merupakan langkah pertama untuk bisa merawat anak dengan lebih baik.

Orang tua dari anak ASD sering menghadapi tekanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang tua anak non-ASD. Faktor seperti kondisi anak, kurangnya dukungan sosial dan keterbatasan waktu sering kali menjadi hambatan utama dalam merawat diri sendiri. Oleh karena itu, memahami dan menerapkan strategi perawatan diri sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan emosional dan fisik orang tua.

Strategi Self Care Bagi Orang Tua ASD

Perawatan Diri Fisik

Perawatan diri fisik fokus pada menjaga kesehatan tubuh agar tetap kuat dan bugar. Ini penting karena kelelahan fisik dapat berdampak langsung pada kesejahteraan emosional dan psikologis orang tua. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk melakukan perawatan diri fisik adalah dengan makan teratur dan sehat, berolahraga, tidur yang cukup dan mengambil cuti atau berlibur.

Perawatan diri psikologis

Perawatan diri psikologis bertujuan untuk menjaga kesehatan mental dan mengelola stres yang dihadapi orang tua dalam mengasuh anak ASD. Hal yang dapat dilakukan orang tua untuk merawat diri secara psikologis yaitu dengan menulis perasaan dan pengalaman sehari-hari, melakukan relaksasi, menghabiskan waktu bersama pasangan.

Perawatan Diri Emosional

Perawatan ini membantu orang tua untuk mengatur dan mengalirkan emosi mereka secara sehat. Hal yang dapat dilakukan orang tua yaitu dengan berinteraksi dengan orang terdekat, menonton atau membaca hal yang disukai, bergabung dalam kelompok atau komunitas serta mengizinkan diri sendiri untuk menangis.

Perawatan diri spiritual

Perawatan ini fokus pada ketenangan batin dan penguatan nilai-nilai spiritual yang dapat membantu orang tua tetap optimis dan semangat. Hal yang dapat dilakukan yaitu dengan berdoa dan berdoa mendekatkan diri kepada Tuhan.

Perawatan diri di tempat kerja

Bagi orang tua yang bekerja, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sangat penting agar tidak kelelahan secara mental dan emosional. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan mengatur jeda saat bekerja, tidak membawa pekerjaan ke rumah serta membuat tempat kerja agar fokus dan maksimal dalam bekerja.

 

Referensi

Gorsky, SM (2014). Strategi perawatan diri di antara orang tua yang memiliki anak yang didiagnosis dengan Gangguan Spektrum Autisme (tesis Magister, California State University, San Bernardino). CSUSB ScholarWorks.

Categories
Artikel ASD

Aktivitas Fisik Bagi Anak Dengan Autism Spectrum Disorder (ASD)

Autism spectrum disorder (ASD) mempengaruhi sekitar 1% anak di dunia dengan tantangan utama pada keterampilan sosial, emosional dan fungsi motorik. Meskipun aktivitas fisik diketahui memberikan banyak manfaat bagi anak dengan ASD namun, hanya sekitar 14% yang memenuhi rekomendasi aktivitas fisik harian dari WHO.

Manfaat Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik dapat memberikan dampak positif pada anak dengan ASD, diantaranya yaitu :

  • Perbaikan keterampilan sosial

Aktivitas yang melibatkan interaksi, seperti olahraga tim, membantu meningkatkan komunikasi dan kerja sama. Misalnya dengan permainan bola atau olahraga berkelompok lainnya memperkuat kemampuan anak dalam membaca isyarat sosial.

  • Pengurangan gejala ASD

Latihan aerobik dan terapi akuatik telah terbukti menjadi salah satu langkah efektif dalam mengurangi perilaku repetitif dan meningkatkan emosional anak.

  • Pengaturan pola tidur dan regulasi emosi

Aktivitas fisik yang dilakukan seperti jogging dapat membantu untuk meningkatkan kualitas tidur dan kemampuan pengendalian emosi anak ASD.

  • Peningkatan Kesehatan fisik

Program pelatihan yang terstruktur, tidak hanya meningkatkan koordinasi dan keseimbangan tetapi juga membantu melindungi anak dari risiko penyakit metabolic.

Tantangan Yang Dihadapi

Dalam melaksanakan aktivitas anak ASD seringkali menghadapi berbagai kendala dalam mengakses aktivitas fisik, seperti :

  • Hambatan sosial

Anak anak dengan ASD sering kali menghadapi stigma yang berakar dari kurangnya pemahaman Masyarakat tentang kondisi mereka. Stigma ini menyebabkan mereka cenderung tidak diterima dalam kelompok sosial, baik oleh teman sebaya maupun orang dewasa. Salah satu kejadian umum yaitu anak ASD tidak akan dipilih pertama dalam kegiatan olahraga kelompok, yang dapat membuat mereka merasa tidak diinginkan atau diabaikan. Selain itu juga, anak ASD kesulitan membaca isyarat sosial dan memahami aturan permainan, yang dapat menyebabkan kesalahpahaman atau konflik dengan anggota lain.

  • Kekurangan koordinasi dan stabilitas postural yang menyulitkan mereka berpartisipasi dalam aktivitas tertentu

Banyak anak dengan ASD mengalami defisit motorik, seperti kesulitan dalam koordinasi, keseimbangan, dan stabilitas postural. Tantangan ini tidak hanya mempengaruhi kemampuan mereka untuk melakukan aktivitas fisik secara efektif, tetapi juga meningkatkan risiko cedera selama berolahraga.

  • Kurangnya program olahraga yang inklusif dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka

Sebagian besar program olahraga yang tersedia sering kali tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dengan ASD. Misalnya, kurangnya instruktur yang terlatih untuk menangani anak dengan kebutuhan khusus dapat menyebabkan kesalahpahaman dalam komunikasi atau metode pengajaran yang kurang efektif. Selain itu, lingkungan olahraga yang kompetitif atau bising dapat menjadi tidak nyaman atau membebani anak dengan sensitivitas sensorik, yang sering kali terjadi pada anak-anak dengan ASD.

Rekomendasi Intervensi Aktivitas Fisik Anak ASD

Untuk memaksimalkan manfaat, aktivitas fisik perlu disesuaikan dengan kebutuhan individu anak dengan ASD. Contohnya:

  • Frekuensi dan Durasi: Aktivitas sebaiknya dilakukan 2–3 kali per minggu selama 45–60 menit.
  • Jenis Aktivitas: Aktivitas seperti terapi akuatik, olahraga ritmis dengan musik, atau seni bela diri dapat dipilih berdasarkan minat dan kemampuan anak.
  • Pendekatan Inklusif: Menciptakan lingkungan yang mendukung, seperti melibatkan keluarga dan teman, dapat membantu anak merasa lebih diterima.

Referensi

Zborowska, A. M. (2024). The role of physical activity and sport in children and adolescents with autism spectrum disorder (ASD): A narrative review. Sports Psychiatry: Journal of Sports and Exercise Psychiatry. Advance online publication.

Categories
Artikel ASD Post Utama

Applied Behavior Analysis untuk Anak dengan Autisme

Apa itu ABA?

Applied Behavior Analysis (ABA) adalah metode terapi yang banyak digunakan untuk anak dengan Autism Spectrum Disorder dalam mempelajari keterampilan baru dan megurangi perilaku yang menghambat perkembangan mereka. Metode ini didasarkan pada prinsip bahwa perilaku dapat dipelajari dan ditingkatkan melalui penguatan positif. Dengan kata lain, jika anak mendapatkan pujian atau hadiah setelah melakukan sesuatu yang baik, mereka cenderung akan kembali ke perilaku tersebut.

Manfaat Applied Behavior Analysis (ABA) untuk anak Autsime

Applied Behavior Analysis (ABA) dapat membantu anak dalam berbagai aspek, seperti :

  • Meningkatkan kemampuan bicara dan komunikasi

Anak dapat belajar cara meminta sesuatu dengan kata-kata, Gerakan atau gambar.

  • Meningkatkan keterampilan sosial

Anak mengajarkan bagaimana berinteraksi dengan orang lain, seperti bermain dengan teman sebaya mereka.

  • Meningkatkan keterampilan aktivitas sehari-hari

Seperti makan sendiri, mencuci dan menjaga kebersihan diri sendiri.

  • Mengurangi perilaku yang menghambat perkembangan

Seperti tantrum, agresi atau kebiasaan berulang yang dapat menganggu aktivitas sehari-hari ataupun kehidupan sosialnya.

Metode yang digunakan dalam Applied Behavior Analysis (ABA)

Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda-beda, sehingga terapi ABA akan disesuaikan dengan kondisi yang mereka butuhkan. Berikut beberapa metode yang sering digunakan dalam ABA :

  • Discrete Trial Training (DTT) – Melatih anak secara bertahap dalam lingkungan yang terstruktur. Misalnya, anak diajarkan menyebut warna dengan cara yang sederhana dan berulang.
  • Pivotal Response Training (PRT) – Mengajarkan keterampilan dalam suasana yang lebih santai dan alami, seperti bermain sambil belajar.
  • Functional Communication Training (FCT) –Membantu anak menemukan cara berkomunikasi yang lebih efektif agar tidak kecewa, misalnya dengan menggunakan kartu bergambar jika belum bisa bicara

Tantangan dalam Applied Behavior Analysis (ABA)

Meskipun ABA terbukti efektif, ada beberapa tantangan yang mungkin dihadapi orang tua, antara lain :

  • Biaya yang cukup mahal – Tidak semua terapi ABA ditanggung oleh asuransi atau bantuan pemerintah.
  • Tidak semua anak cocok dengan ABA – Setiap anak unik, dan mungkin ada metode lain yang lebih sesuai.
  • Kontroversi di komunitas autisme – Beberapa orang menilai ABA terlalu menekankan perubahan perilaku tanpa memperhatikan kenyamanan anak. Namun, saat ini ABA lebih fokus pada pendekatan yang ramah dan positif.

Terapi ABA dapat menjadi pilihan yang baik untuk membantu anak autis mempelajari keterampilan baru dan menjalani kehidupan yang lebih mandiri. Namun, penting bagi orang tua untuk mencari yang tepat, memilih terapi yang berkualitas, dan memastikan bahwa terapi dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan menghormati informasi anak.

Referensi

Anderson, A., & Carr, M. (2021). Analisis perilaku terapan untuk autisme: Bukti, isu, dan hambatan implementasi. Laporan Gangguan Perkembangan Terkini, 8 (3), 191–200.

Gitimoghaddam, M., Chichkine, N., McArthur, L., Sangha, SS, & Symington, V. (2022). Analisis perilaku terapan pada anak-anak dan remaja dengan gangguan spektrum autisme: Tinjauan cakupan. Perspektif tentang Ilmu Perilaku, 45 (3), 521–557

Categories
Artikel ASD

Saudara Kandung dan Anak ASD, Peran dalam Perkembangan

Saudara kandung menjadi bagian penting dalam kehidupan anak autisme spektrum disorder (ASD). Saudara kandung tidak hanya menjadi teman bermain, tetapi mereka juga akan memberikan pengaruh pada setiap aspek perkembangan anak ASD, baik secara sosial, emosional maupun adaptif. Sehingga, hubungan saudara kandung memiliki potensi yang besar untuk mempengaruhi adaptasi kemampuan dan sosial anak ASD

Interaksi Saudara Kandung Sebagai Wadah Pembelajaran

Interaksi yang terjadi antara saudara kandung menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran dan pengembangan keterampilan anak ASD. Saudara kandung yang lebih tua seringkali bertindak sebagai model atau pembimbing, sehingga membantu adiknya untuk belajar berkomunikasi, beradaptasi dalam situasi sosial dan memahami emosi. Sebaliknya, dalam beberapa kasus, saudara kandung yang lebih muda juga dapat mengambil peran tersebut, terutama ketika saudaranya yang ASD adalah keluarga yang lebih tua dalam keluarga.

Frekuensi dan kualitas interaksi antara anak ASD dan saudara kandungnya memiliki dampak. Interaksi yang lebih sering dan berkualitas tinggi, seperti bermain bersama atau berbagi pengalaman positif, dapat meningkatkan keterampilan sosial dan adaptasi anak ASD.

Dampak dan Tantangan

Memiliki saudara kandung dapat memberikan perlindungan emosional bagi anak ASD. Anak ASD yang memiliki saudara kandung lebih tua cenderung menunjukkan tingkat masalah perilaku yang lebih rendah dan kemampuan sosial yang lebih baik dibandingkan anak yang tidak memiliki saudara kandung. Hubungan hangat antara saudara kandung juga dapat membantu mengurangi rasa cemas dan meningkatkan rasa percaya diri anak ASD.

Namun, tantangan juga bisa muncul, misalnya konflik dalam hubungan saudara kandung dapat mempengaruhi emosi dan perilaku anak ASD. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memfasilitasi interaksi positif anak-anak mereka. Mendorong kegiatan bermain bersama atau mendiskusikan cara mengatasi konflik, merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan orang tua.

Peran Orang Tua Dalam Mendukung Hubungan ASD Dengan Saudara Kandung

Orang tua menjadi kunci dalam membentuk hubungan yang sehat antara anak ASD dan saudara kandungnya. Dengan memberikan arahan yang tepat dan menciptakan lingkungan yang mendukung. Orang tua dapat membantu kedua pihak untuk saling memahami dan menerima satu sama lain. Selain itu, orang tua juga dapat memberikan kesempatan kepada saudara kandung untuk berkontribusi dalam terapi atau keluarga lain yang mendukung perkembangan anak ASD.

Saudara kandung memiliki peran penting dalam perkembangan anak ASD. Melalui hubungan yang positif dan interaksi yang mendukung, mereka dapat membantu anak ASD mengembangkan kemampuan sosial, emosional, dan adaptif yang penting untuk kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk menghargai dan mendukung dinamika hubungan saudara kandung demi memberikan dampak positif yang berkelanjutan.

Referensi

Cuskelly, M., Gilmore, L., Rayner, C., Girkin, F., Mulvihill, A., & Slaughter, V. (2023). Dampak saudara kandung yang mengalami perkembangan normal terhadap hasil perkembangan anak penyandang disabilitas: Tinjauan cakupan. Penelitian tentang Disabilitas Perkembangan, 140, 104574.

Categories
event_reguler

Workshop Gratis Produksi Prozen Food Lele Oleh MAC

Malang, 9 Januari 2025 – Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Disabilitas Cipta Kriya Wiyasa menggelar soft launching perdananya dengan cara yang inspiratif. Acara ini berlangsung di Malang Creative Center (MCC), tepatnya di ruang Food Lab lantai 3. Dalam rangkaian kegiatan ini, diadakan workshop pelatihan produksi prozen food berbahan dasar ikan lele, yang menariknya diselenggarakan secara gratis bagi para peserta. Produksi Prozen Food Lele oleh komunitas MAC di pandu oleh seorang instruktur.

Kegiatan ini dipimpin oleh Hafid, sebagai seorang instruktur dari MAC, yang didampingi oleh tim pendukungnya.Workshop yang diikuti oleh anak-anak dari yayasan autisme yang berada di luar MAC ini menghadirkan suasana workshop yang ramah, inklusif, dan penuh semangat. Peserta mengajarkan berbagai keterampilan praktis mulai dari proses membersihkan ikan lele, mengolahnya menjadi produk makanan beku siap saji, hingga membungkus hasil produksi dengan kualitas standar.

Workshop gratis ini tidak hanya berfokus pada hasil produksi, tetapi juga mengajarkan higienitas dan kebersihan yang penting dalam industri makanan. Hafid dan timnya memberikan bimbingan secara bertahap agar peserta dapat mengikuti setiap proses dengan baik. Pendekatan ini disesuaikan dengan kebutuhan individu, sehingga kegiatan menjadi inklusif dan efektif.

Memberdayakan Anak Autis Melalui Produksi Prozen Food Lele Oleh MAC

Kegiatan ini memiliki nilai lebih dengan membantu melatih kemampuan motorik halus, meningkatkan fokus, dan mengenalkan anak autis pada keterampilan yang dapat menjadi bekal kemandirian di masa depan.“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak autis memiliki potensi besar untuk berkembang. Soft launching ini adalah langkah awal kami untuk membuka lebih banyak peluang pelatihan inklusif di kemudian hari,” ujar Hafid.

Soft launching ini menjadi momen penting untuk memperkenalkan LPK Disabilitas Cipta Kriya Wiyasa kepada masyarakat. Lembaga ini berkomitmen pada pemberdayaan penyandang disabilitas melalui berbagai program pelatihan yang inklusif. Pendidikan keterampilan praktis yang diberikan secara gratis menjadi salah satu upaya nyata untuk mendukung kemandirian mereka. Diperkirakan, lembaga ini dapat menjadi pionir dalam menciptakan peluang baru bagi penyandang disabilitas, khususnya di Malang.

Selain menjadi ajang pelatihan, acara ini sekaligus menjadi simbol nyata inklusi sosial yang terwujud melalui kolaborasi berbagai pihak. LPK Disabilitas Cipta Kriya Wiyasa memulai langkah awal yang positif melalui program pelatihan inklusif. Lembaga ini berkomitmen untuk terus menghadirkan pelatihan yang bermanfaat bagi penyandang disabilitas. Tujuannya adalah agar semakin banyak anak autis yang merasakan manfaat langsung dari inisiatif mulia ini.

Categories
event_reguler

MAC Tingkatkan Kreativitas Anak Autis di Workshop Fotografi

Malang, 9 Januari 2025 – LPK Disabilitas Cipta Kriya Wiyasa menggelar soft launching perdananya dengan konsep yang kreatif dan inspiratif. Bertempat di Malang Creative Center (MCC), tepatnya di Studio Foto lantai 5, acara ini dikemas dalam bentuk workshop fotografi. Workshop ini memberikan pengalaman langsung bagi peserta untuk belajar menggunakan kamera secara praktis, mulai dari memahami fitur-fitur kamera hingga teknik dasar memotret. Sehingga dapat meningkatkan kreativitas anak autis. 

Dipimpin oleh Bintang, seorang instruktur dari MAC, workshop ini diikuti oleh anak-anak autis dari komunitas yang sama. Dalam pelatihan ini, peserta diajarkan mengenal alat-alat kamera, memahami fitur-fitur dan tools yang tersedia, serta langsung mempraktikkan kemampuan mereka. Dengan pendekatan yang sederhana namun efektif, Bintang berhasil membantu anak-anak memahami materi dengan baik.

Selain mempelajari teori dan teknik dasar, para peserta juga diberi tantangan untuk memotret berbagai objek di studio menggunakan kreativitas mereka. Dengan bantuan langsung dari Bintang dan tim, anak autis ini mampu menghasilkan foto-foto yang unik dan penuh makna. Proses ini tidak hanya melatih kemampuan teknis mereka, tetapi juga membuka peluang bagi mereka untuk mengekspresikan diri melalui seni fotografi.

Kreativitas Anak Autis di Workshop Fotografi

Workshop ini menjadi pengalaman yang berkesan, baik bagi peserta maupun instruktur. “Wah, sangat menarik sekali event pertama one day skill dari LPK Cipta Kriya Wiyasa ini! Satu pengalaman yang tak akan terlupakan. Sangat unik menurut saya, karena ternyata anak autis tidak seperti yang dibayangkan. Mereka sangat lihai menggunakan kamera, dan uniknya, mereka langsung paham tentang segitiga eksposur dengan lancar meski dengan bahasa yang berbeda,” ujar Bintang saat menceritakan pengalamannya.

Soft launching ini menjadi langkah awal yang berkesan bagi LPK Disabilitas Cipta Kriya Wiyasa dalam mewujudkan komitmen mereka untuk memberdayakan penyandang disabilitas melalui pelatihan yang inklusif dan inovatif. Dengan pelatihan seperti ini, lembaga berharap dapat terus menciptakan program-program yang mendukung kemandirian penyandang disabilitas dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Selain itu, melalui workshop ini MAC juga berharap anak autis dapat mengasah bakat dan keterampilan.

Categories
event_reguler

Workshop Office Boy di Soft Launching LPK Disabilitas oleh MAC

Malang, 9 Januari 2025Dalam rangkaian acara soft launching LPK Disabilitas Cipta Kriya Wiyasa, Malang Autism Center (MAC) menyelenggarakan workshop pelatihan Office Boy. Kegiatan ini berlangsung di MCC Malang, tepatnya di Studio Foto lantai 5, yaitu dilaksanakan sebelum pelatihan fotografi yang juga merupakan rangkaian dari Soft launching. 

Workshop ini dipimpin langsung oleh Adrian, salah satu instruktur  dari MAC. Para peserta pelatihan merupakan anak-anak binaan MAC yang memiliki semangat untuk belajar dan berkarier di dunia Office boy. Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman serta pengalaman praktis peran dan tanggung jawab seorang Office Boy di lingkungan hotel ataupun perkantoran.

Pelatihan mencakup berbagai aspek penting, seperti menjaga kebersihan area publik, menangani permintaan tamu, serta memahami etika kerja di perhotelan atau perkantoran. Dengan metode pengajaran yang interaktif, Adrian memberikan pemahaman langsung dan membimbing peserta dalam praktik.

Workshop Office Boy Guna Melatih Keterampilan dan Siap Terjun ke Dunia Kerja

Workshop ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga menyiapkan peserta untuk praktik langsung di dunia kerja. Setelah pelatihan di LPK Disabilitas Cipta Kriya Wiyasa, peserta akan mendapatkan kesempatan magang di hotel-hotel mitra yang telah bekerja sama dengan MAC. Selama magang, mereka akan didampingi oleh supervisor untuk memastikan penerapan keterampilan yang telah dipelajari selama pelatihan.

Program ini juga menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan komunikasi yang baik dengan tamu. Dengan demikian, peserta tidak hanya menguasai keterampilan teknis, tetapi juga memiliki sikap profesional yang dibutuhkan di dunia kerja.

“Melalui pelatihan ini, kami berharap anak-anak MAC dapat mempersiapkan diri dengan baik untuk bersaing di dunia kerja. Kami ingin menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi besar untuk sukses,” ujar Adrian, sang instruktur.

Workshop ini merupakan bagian dari misi LPK Disabilitas Cipta Kriya Wiyasa dalam memberdayakan penyandang disabilitas melalui pelatihan keterampilan kerja. Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung, mencerminkan semangat mereka untuk belajar dan berkembang. Dengan dukungan penuh dari MAC, para peserta diharapkan mampu menapaki karir yang lebih cerah di industri perhotelan.

Soft launching LPK Disabilitas Cipta Kriya Wiyasa menjadi langkah awal penting dalam menciptakan peluang kerja inklusif bagi penyandang disabilitas. Hal ini juga menunjukkan komitmen Malang Autism Center untuk mewujudkan masyarakat yang inklusif dan berdaya.

Categories
Artikel ASD Post Utama

Tantrum Pada Sindrom Aperger dan HFA

Tantrum pada Sindrom Asperger (AS) dan Autism Tingkat Tinggi (HFA) merupakan respon emosional yang sering terjadi. Tantrum bukanlah tindakan acak, melainkan bagian dari siklus tiga tahap yaitu rumbling, range dan recovery. Setiap tahap memiliki ciri khas dan memerlukan intervensi yang berbeda. Sehingga penting untuk memahami tantrum pada sindrom aperger dan HFA agar dapat memberikan intervensi yang tepat. 

Tahapan Tantrum Sindrom Aperger dan HFA

Tahap Rumbling

Tahap ini ditandai dengan adanya perubahan perilaku awal yang tampak kecil, seperti mengetuk kaki, menggenggam tangan, atau menarik diri secara emosional. Sehingga, jika dibiarkan perilaku ini dapat berkembang menjadi ledakan emosi. Adapun intervensi yang dapat dilakukan yaitu : antisipectic bouncing (mengalihkan anak dari situasi yang memicu stres), proximity control (sedak secara fisik namun tidak memaksa) dan signal interfence (memberikan sinyal non-vernal untuk membantu anak menyadari emosinya).

Rentang tahap

Jika sudah dilakukan intervensi pada tahap sebelumnya namun gagal, anak telah memasuki tahap Range. Di sini, anak mungkin menampilkan perilaku agresif seperti berteriak, memukul, atau merusak barang. Fokus utama adalah memastikan keselamatan anak dan orang di sekitarnya. Pada tahap ini, intervensi terbaik adalah membawa anak ke tempat yang tenang seperti home base untuk menenagkan diri.

Tahap pemulihan

Setelah ledakan emosi, anak memasuki tahap pemulihan. Anak mungkin akan merasa lelah, menyesal atau bahkan tidak mengingat apapun yang terjadi. Pada tahap ini, penting untuk mengembalikan anak ke rutinitas normal secara perlahan dan melibatkan anak dalam aktivitas yang disukai untuk memulihkan suasana hati.

Pencegahan Tantrum Sindrom Aperger dan HFA

Pencegahan tantrum merupakan langkah proaktif untuk membantu anak dengan sindrom aspeger (AS),  Autism Tingkat tinggi (HFA) dan gangguan terkait agar dapat mengelola stress mereka lebih baik. Strategi ini mencakup peningkatan sosial, kesadaran sensorik, dan kesadaran diri.

Peningkatan pemahaman sosial

Anak-anak dengan AS dan HFA sering menghadapi kesulitan dalam memahami aturan sosial, memecahkan masalah sosial, dan merespons situasi dengan tepat. Metode untuk meningkatkan pemahaman ini meliputi:

  • Cartooning (Pencatatan Visual)

Anak diajarkan menggunakan gambar atau komik sederhana untuk memahami skenario sosial yang kompleks. Gambar dapat membantu mereka mengenali emosi, memahami percakapan, atau mengidentifikasi konsekuensi tindakan mereka. Teknik ini sangat efektif untuk anak-anak yang memiliki gaya belajar visual.

  • Social Autopsies

Strategi ini dilakukan setelah anak mengalami kesalahan sosial. Dalam proses ini

  1. Anak dan pendamping mengidentifikasi apa yang salah.
  2. Mereka menentukan siapa yang dirugikan.
  3. Merumuskan cara memperbaiki kesalahan.
  4. Menyusun rencana untuk mencegah kesalahan serupa di masa depan.

Pendekatan ini membantu anak memahami sebab-akibat dalam interaksi sosial dan meningkatkan kemampuan mereka dalam beradaptasi.

Kesadaran sensorik

Banyak anak dengan AS dan HFA memiliki sensitivitas terhadap rangsangan sensorik, seperti suara, cahaya, atau tekstur. Ketidakseimbangan sensorik ini sering kali menjadi pemicu tantrum. Metode untuk meningkatkan kesadaran sensorik meliputi:

  • Program “How Does Your Engine Run?”

Program ini mengajarkan anak untuk mengenali tingkat kewaspadaan sensorik mereka (terlalu rendah, terlalu tinggi, atau seimbang) dan mengajarkan cara mengatur diri agar mencapai tingkat kewaspadaan optimal. Contoh: Anak belajar mengenali kapan mereka merasa “terlalu bersemangat” dan menggunakan teknik seperti pernapasan dalam untuk menenangkan diri.

  • Pendekatan Sensorik dalam Kehidupan Sehari-Hari

Orang tua dan guru dapat menggunakan metode sederhana seperti menyediakan mainan sensorik (misalnya bola stres) atau menciptakan ruang tenang (home base) untuk membantu anak menenangkan diri.

Kesadaran Diri

Kesadaran diri membantu anak mengenali emosi mereka, memahami tanda-tanda awal stres, dan menggunakan strategi untuk mengatasi emosi secara mandiri. Beberapa metode yang efektif adalah:

  • Incredible 5-Point Scale

Metode ini membantu anak mengklasifikasikan tingkat emosi atau stres mereka pada skala 1-5. Contoh

  1. Level 1: Tenang dan bahagia.
  2. Level 3: Mulai merasa frustrasi.
  3. Level 5: Sangat marah dan mendekati tantrum.

Setelah mengenali tingkat emosinya, anak diajarkan strategi untuk menenangkan diri pada setiap level, seperti menarik napas dalam atau meminta waktu sendiri.

  • Pengenalan Emosi dengan Cues Visual

Anak diajarkan mengenali tanda-tanda emosional melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, atau situasi tertentu. Ini membantu mereka lebih peka terhadap emosi mereka sendiri dan orang lain.

  • Pelatihan Relaksasi

Teknik relaksasi seperti pernapasan ringan, pernapasan dalam, atau yoga sederhana dapat diajarkan untuk mengurangi tingkat stres anak.

 

Referensi

Myles, B. S., & Southwick, J. (2005). The cycle of tantrums, rage, and meltdowns in children and youth with Asperger syndrome, high-functioning autism, and related disabilities. Paper presented at the Inclusive and Supportive Education Congress, International Special Education Conference, Glasgow, Scotland. Retrieved from http://www.isec2005.org.uk

Categories
event_reguler Post Utama

Soft Launching Lembaga Pelatihan Kerja Disabilitas Oleh MAC

Memasuki tahun 2025, Malang Autism Center (MAC) kembali menegaskan komitmennya dalam memberdayakan anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD). Kali ini, melalui peluncuran Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Disabilitas “Cipta Kriya Wiyasa”, MAC memberikan kesempatan yang lebih luas bagi anak-anak autis untuk mengembangkan keterampilan praktis yang siap digunakan dalam dunia kerja. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup anak autis dengan menyediakan pelatihan yang relevan dan sesuai dengan kemampuan mereka.

Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Disabilitas “Cipta Kriya Wiyasa” dirancang dengan pendekatan yang inklusif, mengutamakan pemberdayaan melalui keterampilan praktis yang dibutuhkan di berbagai sektor industri. Pada fase awal, lembaga ini menawarkan tiga program pelatihan unggulan: Office Boy (OB), Pengolahan Frozen Food, dan Fotografi. Program-program ini diadaptasi sesuai dengan standar LPK pada umumnya, namun disesuaikan dengan kebutuhan khusus anak-anak penyandang disabilitas, untuk membantu mereka mengembangkan potensi diri secara optimal.

Keunikan pelatihan di LPK “Cipta Kriya Wiyasa” terletak pada pendekatan yang mengutamakan pembelajaran berbasis keterampilan. Selain itu, peserta juga mendapatkan dukungan emosional dan psikologis agar merasa nyaman dan percaya diri dalam mengikuti program pelatihan. Dengan kurikulum yang disusun khusus, anak-anak dapat mempelajari keterampilan aplikatif untuk dunia kerja dan mempersiapkan mereka hidup lebih mandiri.

Setelah sukses menjalani soft launching pada awal tahun 2025, LPK “Cipta Kriya Wiyasa” akan melaksanakan peluncuran resmi pada 20 Februari 2025. Peluncuran penuh ini bertujuan agar lebih banyak anak-anak penyandang disabilitas, terutama dengan gangguan spektrum autisme, dapat merasakan manfaat program pelatihan. Dengan ini, diharapkan lebih banyak anak-anak dapat berkembang melalui kesempatan yang diberikan.

Keberhasilan MAC dalam Pendidikan Anak Disabilitas sebagai Dasar Pembentukan Lembaga Pelatihan Kerja Disabilitas

Sejak berdiri pada Oktober 2015, Malang Autism Center (MAC) fokus pada terapi perilaku dan pendidikan anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD). MAC menggunakan metode Applied Behavior Analysis (ABA) yang terbukti efektif dalam mengembangkan keterampilan sosial, komunikasi, dan perilaku adaptif. Metode ini membantu anak autis mempersiapkan diri untuk kehidupan sehari-hari dengan lebih baik.

MAC mengusung konsep pesantren atau berasrama, menyediakan lingkungan yang aman, terstruktur, dan kondusif bagi anak-anak ASD. Lingkungan ini didukung oleh tim terapis dan pendidik yang berkompeten di bidangnya. Berlokasi di Jl. Manggar No. 08, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, MAC berkomitmen memberikan layanan terbaik agar anak-anak ASD dapat mencapai kemandirian dan kualitas hidup yang lebih baik.

Hingga saat ini, MAC telah berhasil meuluskan 25 anak melalui program pelatihan berbasis asrama. Para lulusan MAC tidak hanya mendapatkan keterampilan praktis, tetapi juga bimbingan untuk menjadi individu yang mandiri dan percaya diri. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa anak-anak penyandang disabilitas dapat mencapai potensi terbaik mereka. Dengan pendekatan yang tepat, mereka dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Dengan diluncurkannya LPK “Cipta Kriya Wiyasa”, MAC berharap dapat memperluas dampak positif dari program pelatihannya. LPK ini juga memberikan kesempatan bagi lebih banyak anak autis untuk berkembang sesuai dengan bakat dan minat mereka. Ini adalah langkah penting untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan memberikan kesempatan adil bagi setiap individu, terlepas dari keterbatasan.

Buka WhatsApp
Klik Untuk Ke Wa
Halo! Apa yang bisa saya bantu