
Sebagai orang tua, tentu kita ingin memahami dan mendukung perkembangan anak sebaik mungkin. Namun, tahukah Anda bahwa autisme pada anak perempuan sering kali tidak terdeteksi sejak dini? Hal ini bukan karena gejalanya tidak ada, tetapi karena cara anak perempuan menunjukkan autisme sering berbeda dari anak laki-laki.
Autisme pada Anak Perempuan Bisa Tampak Berbeda
Ketika mendengar kata autisme, kebanyakan orang membayangkan anak yang kesulitan berkomunikasi, menghindari kontak mata, atau terlalu fokus pada satu hal tertentu. Namun, tanda-tanda ini lebih sering terlihat pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.
Anak perempuan dengan autisme cenderung lebih pandai meniru perilaku teman-temannya, sehingga terlihat seperti anak biasa. Mereka mungkin bisa berbicara dengan baik, bermain dengan teman, dan mengikuti aturan di sekolah. Namun, di dalam hati, mereka sering merasa lelah karena harus berusaha keras menyesuaikan diri agar tampak seperti anak lainnya.
Mengapa Autisme pada Anak Perempuan Sering Terlambat Diketahui?
- Lebih Pandai Menyesuaikan Diri
Anak perempuan biasanya lebih banyak mengamati orang lain dan mencoba meniru cara berbicara atau berperilaku. Hal ini membuat kesulitan mereka dalam bersosialisasi tidak terlihat jelas. - Tidak Terlalu Aktif atau Mengganggu
Anak laki-laki dengan autisme sering menunjukkan perilaku yang lebih mencolok, seperti hiperaktif atau sulit diatur. Sementara itu, anak perempuan dengan autisme cenderung pendiam dan mengikuti aturan, sehingga guru atau orang tua tidak melihat ada masalah. - Sering Salah Didiagnosis
Karena tidak menunjukkan tanda-tanda autisme yang jelas, anak perempuan sering didiagnosis dengan kondisi lain, seperti pemalu berlebihan, cemas, atau bahkan gangguan kepribadian.
Dampak Jika Autisme Terlambat Diketahui
Jika autisme pada anak perempuan tidak dikenali sejak dini, mereka bisa mengalami berbagai kesulitan, seperti:
Kesulitan memahami hubungan sosial, yang membuat mereka merasa kesepian atau sering salah paham dalam pergaulan.
Mudah merasa cemas dan stres, karena terus-menerus berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Rentan menjadi korban perundungan (bullying) karena sering tidak memahami maksud tersembunyi dari orang lain.
Bagaimana Orang Tua Bisa Membantu?
Jika Anda merasa anak Anda menunjukkan tanda-tanda kesulitan dalam bersosialisasi atau sering merasa kelelahan setelah berinteraksi dengan teman-temannya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog atau dokter spesialis anak.
Beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk mendukung anak perempuan dengan autisme, antara lain:
Mengamati kebiasaan anak, Perhatikan apakah anak terlihat kesulitan dalam pergaulan atau lebih suka bermain sendiri.
Memberikan lingkungan yang nyaman, Jangan memaksa anak untuk menjadi seperti teman-temannya, tetapi bantu mereka menemukan cara berkomunikasi yang nyaman.
Membantu anak mengenali emosinya, Anak perempuan dengan autisme sering mengalami kecemasan, jadi ajarkan mereka cara mengungkapkan perasaan dengan tenang.
Mencari komunitas pendukung, Bertemu dengan orang tua lain yang memiliki anak dengan kondisi serupa bisa membantu Anda mendapatkan informasi dan dukungan yang dibutuhkan.
Autisme pada anak perempuan sering kali tidak dikenali karena mereka lebih pandai menyesuaikan diri. Namun, jika tidak terdeteksi sejak dini, mereka bisa menghadapi berbagai kesulitan di kemudian hari. Sebagai orang tua, penting bagi kita untuk memahami perbedaan ini dan memberikan dukungan terbaik agar anak bisa tumbuh dengan bahagia dan percaya diri.
Referensi

Banyak orang tua khawatir ketika anak dengan autisme terlambat berbicara atau tampak kurang tertarik berkomunikasi. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa anak dengan autisme belajar bahasa dengan cara yang berbeda dibandingkan anak lainnya. Mereka tidak hanya belajar dari mendengar orang berbicara, tetapi juga dari pola yang teratur, seperti huruf, angka, atau musik.
Setiap individu mengalami dunia dengan cara yang berbeda, termasuk mereka yang berada dalam spektrum autisme. Salah satu perbedaan utama yang sering terjadi pada individu autis adalah cara mereka memproses informasi sensorik. Beberapa anak autis mungkin merasa senang dengan rangsangan tertentu (
Bagi anak dengan autisme, lingkungan sosial sering kali terasa menekan dan menuntut mereka untuk “menyesuaikan diri” agar diterima. Karena ingin menghindari perlakuan tidak menyenangkan atau stigma dari orang lain, banyak anak autis yang akhirnya berusaha menyembunyikan atau menekan perilaku alami mereka. Fenomena ini disebut autistic masking yaitu sebuah upaya untuk terlihat seperti anak-anak lain dengan cara meniru gaya bicara, ekspresi wajah, atau menekan kebiasaan mereka yang khas.
Autism Spectrum Disorder (ASD) adalah gangguan perkembangan yang mempengaruhi interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku anak sejak usia dini. Gejala ASD bervariasi, mulai dari kesulitan memahami emosi orang lain, kurangnya kontak mata, hingga perilaku repetitif yang berulang. Mengingat dampak yang luas terhadap kehidupan anak, intervensi dini menjadi langkah penting dalam mengurangi gejala autisme dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Selektivitas makanan atau picky eating merupakan kondisi yang umum dialami oleh anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Anak dengan selektivitas makanan cenderung hanya mau mengonsumsi makanan tertentu dan menolak mencoba makanan baru. Hal ini dapat disebabkan oleh sensitivitas sensorik terhadap tekstur, aroma, atau rasa makanan tertentu, serta kebutuhan akan rutinitas yang tetap.
Banyak orang tua mungkin sudah tahu bahwa anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) memiliki tantangan dalam komunikasi dan interaksi sosial. Namun, tahukah Anda bahwa sebagian besar anak dengan ASD juga mengalami keterlambatan dalam perkembangan motorik mereka?

